Kamis, 27 Mei 2010

Penyakit Glaukoma Akut

Mata membutuhkan sejumlah tekanan tertentu agar dapat berfungsi baik. Pada beberapa orang, tekanan bola mata ini dapat meninggi sehingga akan menyebabkan kerusakan saraf optik. Dapat pula terjadi bahwa tekanan bola mata masih normal akan tetapi tetap terjadi kerusakan syaraf optik yang disebabkan karena syaraf optiknya sendiri yang sudah lemah.

Glaukoma berasal dari bahasa Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaucoma. Kelainan mata glaucoma ditandai dengan meningkatnya tekanan bola mata, atrofi papil saraf optic, dan berkurangnya lapangan pandang.

Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intraocular ini disebabkan oleh bertambahnya produksi cairan mata oleh badan siliar dan berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil. Pada glaukoma akan terdapat melemahnya fungsi mata dengan terjadinya cacat lapangan pandang dan kerusakan anatomi berupa ekskavasi serta degenerasi papil saraf optik, yang dapat berakhir dengan kebutaan.

Glaukoma akut terjadi ketika sistem pengaliran cairan internal (humuor aquous) di mata tiba-tiba terhambat, yaitu hambatan sistem trabekula oleh iris. Hal ini terjadi akibat peninggian yang tiba-tiba dari tekanan bola mata sampai pada tingkat yang berbahaya. Mata menjadi sangat sakit dan penglihatan sangat kabur. Mata menjadi merah dan gejala mungkin sangat berat sampai menyebabkan mual dan muntah. Keadaan ini dapat membuat kerusakan permanen pada penglihatan apabila tidak diobati.

Insiden Penyakit Glaukoma Akut

Glaukoma kini menjadi ancaman kebutaan nomor dua setelah katarak, dengan angka prevalensi 0,20 persen. Glaukoma biasanya terjadi pada mereka yang berusia di atas 40 tahun. Ada beberapa faktor risiko yang mempermudah terjadinya glaukoma. Di antaranya usia lanjut, mempunyai riwayat keluarga penderita glaukoma, rabun jauh (myopia), rabun dekat (hipermetropia), tekanan darah tinggi, ras kulit hitam, diabetes mellitus, dan adanya riwayat trauma mata.

Etiopatogenesis Penyakit Glaukoma Akut

Korpus siliaris yang terletak dibelakang iris bertugas memproduksi cairan yang disebut humour aquous. Cairan ini akan mengalir menuju lubang pupil dan akan meninggalkan bola mata melalui saluran kecil menuju pembuluh darah. Normalnya antara produksi humour aquous dan aliran keluarnya adalah seimbang.

Jika aliran keluarnya terhambat atau produksinya berlebihan, maka tekanan bola mata akan meninggi. Cairan mata yang berada di belakang iris tidak dapat mengalir melalui pupil sehingga mendorong iris ke depan, mencegah keluarnya cairan mata melalui sudut bilik mata (mekanisme blokede pupil).

Tekanan bola mata ini gunanya untuk membentuk bola mata. Kalau tekanannya normal, berarti bola mata itu terbentuk dengan baik. Kalau tekanannya terlalu tinggi, berarti bola mata itu menjadi keras seperti kelereng. Akibatnya, akan menekan saraf mata ke belakang dan menekan saraf papil N II dan serabut-serabut saraf N II. Saraf-saraf yang tertekan itu dan yang menekan saraf papil II ini terjadi penggaungan.

Glaukoma terjadi ketika produksi dari cairan bola mata meningkat atau cairan bola mata tidak mengalir dengan sempurna sehingga tekanan bola mata tinggi, serabut-serabut saraf di dalam saraf mata menjadi terjepit dan mengalami kematian. Besarnya kerusakan tergantung pada besarnya dan lamanya tekanan, maupun buruknya aliran darah disaraf optik.

Tekanan yang sangat tinggi akan menyebabkan kerusakan yang cepat, sedangkan tekanan yang tidak tinggi akan menyebabkan kerusakan yang perlahan-lahan dan akan menyebabkan kebutaan perlahan-lahan dan akan menyebabkan kebutaan perlahan-lahan pula apabila tidak segera ditangani.

Banyak dari serangan ini terjadi di dalam ruang yang gelap, seperti gedung bioskop. Hal ini disebabkan ruangan yang gelap menyebabkan pupil berdilatasi. Ketika hal ini terjadi, ada kontak yang maksimum antara lensa dan iris, yang selanjutnya menyebabkan menyempitnya sudut antara iris dan kornea, sehingga merangsang terjadinya serangan. Pupil juga membesar ketika kita senang atau cemas.

Akibatnya banyak serangan glaukoma akut terjadi akibat suatu stress. Beberapa macam obat juga dapat menyebabkan pembesaran dari pupil sehingga dapat menyebabkan glaukoma. Obat-obat tersebut antara lain anti depressan, obat anti alergi, dan beberapa obat anti muntah.

Gejala Klinik Penyakit Glaukoma Akut

Tanda-tanda glaukoma sendiri, secara klinis tergantung dari jenis glaukomanya sendiri. Bilamana terjadi serangan akut atau subakut seperti yang dikeluhkan pasien tersebut di atas pertolongan harus segera diberikan dalam beberapa jam, karena tekanan bola mata yang tinggi akan menekan struktur anatomi mata yang lemah seperti saraf penglihatan (papil nervus optikus) dengan segala akibatnya. Ini yang hampir selalu tidak dimengerti oleh penderita dan dianggap seperti keluhan sakit mata merah biasa.

Berikut beberapa gejala yang dikeluhkan pasien :
• Mata mendadak terasa nyeri dan merah. Kelopak mata bengkak.
• Penglihatan terganggu bahkan sampai tidak dapat melihat.
• Terkadang disertai mual, muntah
• Terlihat gambaran pelangi sewaktu melihat bola lampu.
• Kerusakan pada saraf optik dapat terjadi dengan cepat dan menyebabkan gangguan penglihatan yang permanen.
• Bradikardi akibat refleks okulokardiak.

Diagnosis Penyakit Glaukoma Akut

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan mata yang dilakukan. Pemeriksaan mata dapat digunakan untuk mendiagnosis glaukoma. Bagaimanapun, memeriksa tekanan intraokuler saja (tonometry) adalah tidak cukup sebab tekanan bola mata sering berubah. Pemeriksaan ke dalam bola mata adalah dengan melihat melalui pupil, kadang pengguanaan obat tetes untuk dilatasi pupil diperlukan. Biasanya pemeriksaan mata yang lengkap diperlukan.

Pemeriksaan tersebut meliputi:
• Pemeriksaan refleks pupil
Tampak pupil midilatasi, mengkerut, bahkan kadang irregular.
• Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometry
Terjadi peningkatan tekanan intraokuler. Dijelaskan bila tekanan bola mata sudah di atas 20 mmHg kemungkinan orang tersebut menderita glaukoma. Adakalanya orang tidak menyadari kalau salah satu dari matanya terkena glaukoma dan baru diketahui ketika kedua mata sudah terkena glaukoma.
• Slit lamp
Peninggian tekanan intraokuler sampai ke level yang tinggi menyebabkan edema epitel kornea, yang memberi gejala pada penglihatan. Selain itu juga dapat terlihat kongesti episklera dan pembuluh darah konjungtiva, juga BMD dangkal yang kadang memperlihatkan beberapa sel aquous juga kadang terlihat sinekia posterior.
• Pemeriksaan ketajaman penglihatan
Tajam penglihatan sangat menurun dan pasien terlihat sakit berat.
• Pemeriksaan lapangan pandang
Penglihatannya seperti melihat dari lubang kunci. Penglihatan sentralnya bisa melihat, tetapi pinggir-pinggirnya tidak dapat melihat.
• Pemeriksaan retina dan saraf optik
Fungsi saraf mata normal umumnya akan meneruskan bayangan yang kita lihat ke otak. Di otak, bayangan tersebut akan bergabung di pusat penglihatan dan membentuk suatu benda (vision). Yang terjadi pada penderita glaukoma adalah kerusakan serabut saraf mata dan menyebabkan daerah tidak melihat (titik buta). Saraf optik dapat membengkak selama serangan akut.
• Gonioscopy
Pemeriksaan rutin menggunakan gonioskopi dapat memprediksikan kemungkinan terjadinya serangan akut. Suatu lensa yang khusus yang berisi suatu cermin ditempatkan di depan mata dan lebar sudut dapat terlihat secara visual. Pasien dengan sudut yang sempit dapat diperingatkan tentang gejala awal penyakit ini, sehingga mereka dapat mencari perawatan yang segera bila tanda tersebut muncul.

Penanganan Penyakit Glaukoma Akut

Tujuan penanganan adalah untuk mengurangi tekanan intraokuler. Keadaan ini merupakan suatu kedaruratan medis. Apabila cepat didiagnosa dan cepat ditangani dengan tepat kemungkinan penglihatan dapat kembali membaik. Menunda-nunda pengobatan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan yang permanen.

Suatu serangan yang akut dapat dihentikan melalui kombinasi obat tetes mata yang dapat mengurangi dilatasi pupil dan obat yang mampu mengurangi produksi humuor aquous. Tekanan harus dikurangi pada awalnya dengan mengurangi jumlah cairan yang diproduksi oleh mata. Hal ini dapat dilakukan dengan menyuntikkan Acetazolamide secara intravena. Obat tetes juga digunakan untuk mengurangi ukuran dari pupil.

Agen antikolinergik misalnya pilocarpin 1-2% dapat menginduksi terjadinya miosis. Penggunaan miotikum kuat harus dihindari karena dapat menyebabkan kongesti vaskular yang dapat memperberat sumbatan aliran. Anastesi retrobulbar xilocain 2% dapat mengurangi produksi humour aquous selain mengurasngi rasa sakit.

Hanya pembedahan yang dapat mengobati glaucoma akut kongestif. Tindakan pembedahan harus dilakukan pada mata dengan glaucoma sudut sempit karena serangan akan berulang lagi suatu saat. Bila baru terjadi gejala prodromal saja maka tindakan pembedahan cukup dengan iridektomi saja.

Bila tekanan dalam bola mata telah turun dalam batas yang aman, maka dokter dapat melakukan suatu laser iridotomi. Laser iridotomy adalah suatu prosedur yang dilakukan dimana sinar laser digunakan untuk membuka iris. Hal Ini memungkinkan cairan aquous mengalir dengan bebas. Obat tetes akan digunakan untuk menganastesi mata, sehingga tidak terasa sakit. Prosedur ini secara keseluruhan membutuhkan waktu kurang dari tigapuluh menit.

Penanganan tersebut biasanya berhasil menurunkan tekanan ke tingkat yang aman.namun karena serangan yang kuat ini telah mempengaruhi aliran aquous yang normal, maka pengunaan obat tetes jangka panjang kadang diperlukan. Pada umumnya operasi untuk mengurangi tekanan secara permanent sangat diperlukan, yaitu dengan membuat lubang terbuka kecil pada mata. Operasi ini disebut dengan trabekulektomi.

Prognosis Penyakit Glaukoma Akut

Perawatan dan diagnosa yang cepat dari suatu serangan adalah kunci untuk mempertahankan penglihatan. Mata yang tidak ditangani, memiliki kemungkinan 40-80% untuk mengalami serangan akut pada 5-10 tahun ke depan.

Pencegahan Penyakit Glaukoma Akut

Orang-Orang yang beresiko tinggi untuk glaukoma akut bisa memilih untuk melakukan iridotomy sebelumnya. Pasien yang mempunyai riwayat serangan akut sebelumnya bisa melakukan prosedur ini ubtuk mencegah kekambuhan.


Senin, 24 Mei 2010

Jihad Merupakan Jalan Menyambut Babak Kelima

Hidup di babak keempat era Akhir Zaman sungguh penuh dengan ujian kesabaran dari Allah. Babak ini diwarnai dengan bercokolnya para Mulkan Jabbriyyan (Para Penguasa Diktator) di panggung kepemimpinan dunia. Inilah babak dimana ummat Islam babak belur. Inilah babak dimana giliran kemenangan Allah berikan kepada kaum kuffar. Allah cabut giliran kemenangan dan kepemimpinan dari tangan ummat Islam. Ummat Islam telah memimpin manuisa selama empat belas abad sepanjang tiga babak sebelumnya, yaitu babak An-Nubuwwah (Kenabian), Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti manhaj Nabi shollallahu ’alaih wa sallam) dan Mulkan Aadhdhon (Raja-raja yang menggigit).

Pada babak pertama babak An-Nubuwwah ummat Islam langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam selama duapuluhtiga tahun. Lalu pada babak kedua Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah ummat Islam dipimpin oleh para sahabat utama Abu Bakar Ash-shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib alias para Khulafa Ar-Rasyidin selama tigapuluh tahun. Selanjutnya pada babak ketiga ummat Islam dipimpin oleh para Mulkan Aadhdhon ditandai dengan berkuasanya tiga kerajaan besar yaitu Daulat Bani Umayyah, Daulat Bani Abbasiyyah dan Kesultanan Ustmani Turki selama tigabelas abad hingga tahun 1928/1382 H.

Babak ketiga disebut sebagai babak Mulkan Aadhdhon karena pada masa itu walaupun ummat Islam memiliki para pemimpin yang dijuluki khalifah, namun pola suksesinya menggunakan sistem waris turun-temurun antar generasi. Sehingga Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebutnya sebagai babak raja-raja. Dan mereka disebut sebagai para raja yang menggigit karena mereka masih ”menggigit” Al-Qur’an dan As-Sunnah. Walaupun tidak sebaik babak sebelumnya dimana para Khulafa Ar-Rasyidin ”menggengam” Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ibarat orang yang mendaki bukit tentunya lebih aman dan pasti bila talinya digenggam daripada digigit. Itulah sebabnya seringkali kita temukan di babak ketiga munculnya para khalifah yang berlaku zalim kepada rakyat bahkan kepada ulama seperti Imam Ahmad bin Hambal. Walaupun pada babak ketiga itu pula kita temukan khalifah yang jujur dan adil-bijaksana seperti Umar bin Abdul Aziz.

Pada babak ketiga jika ummat menghadapi pemimpin yang zalim, para ulama tidak membenarkan rakyat untuk berontak kepada khalifah. Mengapa? Karena betapapun zalimnya person khalifah, namun sistem yang berlaku masih sistem Islam. Hukum yang diterapkan masih hukum dan syariat Allah. Sehingga menentang pemimpin berarti menentang sistem yang Allah ridhai. Para ulama hanya menyuarakan protes melalui nasihat yang terkadang sangat tajam kepada khalifah yang zalim.

Setelah berlalunya babak ketiga, maka ummat Islam praktis menjadi laksana anak-anak ayam kehilangan induk. Anak-anak yatim kehilangan ayah. Dan gelandangan kehilangan tempat bernaung. Mulailah ummat mengalami era yang paling kelam dalam sejarah Islam, yaitu era kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (Para Penguasa Diktator). Bukan saja ummat dipimpin oleh person penguasa yang zalim, tetapi sistem yang berlakupun bukan sistem Islam yang penuh keadilan Ilahi. Sistem yang berlaku adalah sistem jahiliyyah alias sistem kafir berlandaskan hukum buatan manusia yang banyak cacatnya dan penuh ketidakadilan.

Namun, alhamdulillah, berdasarkan hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ternyata era Akhir Zaman tidak berakhir di babak keempat. Masih ada babak kelima yang bakal terjadi. Itulah babak yang disebut Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti manhaj Nabi). Babak yang mirip dengan babak kedua era Akhir Zaman. Artinya, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberitahu kita semua bahwa setelah babak keempat yang penuh kezaliman dan kesewenang-wenangan di bawah kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (Para Penguasa Diktator), maka dunia akan menyaksikan kembali beralihnya giliran kepemimpinan kepada orang-orang beriman. Pertanyaannya ialah: bagaimanakah gerangan proses peralihan itu berlangsung? Apakah ia akan berlangsung dengan mulus dan damai? Ataukah ia akan diwarnai kehebohan dan huru-hara? Apakah cukup melalui meja perundingan, permainan politik dan demokrasi? Ataukah ia menuntut pengorbanan ummat Islam hingga perlu terjadinya al-jihad fi sabilillah dalam pengertian mengangkat senjata di jalan Allah?

Berdasarkan berbagai hadits yang menyangkut tanda-tanda akhir zaman kita jumpai bahwa beralihnya kepemimpinan dunia dari kaum kuffar kepada orang-orang beriman alias berpindahnya ummat dari babak keempat Mulkan Jabbriyyan memasuki babak kelima Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah ternyata melalui gejolak perang. Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa setidaknya ada empat perang yang bakal dialami ummat Islam di bawah kepemimpinan Imam Mahdi yang membawa kepada kemenangan ummat Islam terhadap segenap Mulkan Jabbriyyan (Para Penguasa Diktator).

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

”Kalian memerangi Jazirah Arab, lalu Allah menaklukkannya. Kemudian Persia, lalu Allah menaklukkannya. Setelah itu kalian memerangi Romawi, dan Allah menaklukkannya. Kemudian kalian perangi Dajjal, lalu Allah menaklukkannya.” (HR Muslim 5161)
Jadi, akan ada dua perang yang sifatnya dimaksudkan untuk mengatasi problema internal Ummat Islam, yaitu jazirah Arab (para diktator Sunni) serta Persia (para diktator Syiah). Dan ada dua perang yang sifatnya untuk menuntaskan musuh eksternal, yaitu Romawi (para diktator Salibis-Nasrani) dan Dajjal yang memimpin pasukan Zionis-Yahudi yang sekaligus merupakan fitnah paling dahsyat sepanjang zaman.

Haruskah kita menunggu kedatangan Imam Mahdi? Yang pasti, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam telah mengisyaratkan bahwa kehadirannya merupakan kabar gembira dan sepatutnya disambut dengan semangat oleh ummat Islam. Sebab dialah –dengan izin Allah- yang bakal mengajak kita berpindah dari babak penuh kezaliman menuju babak penuh keadilan.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ
وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Kondisi global dunia dewasa ini sarat dengan perselisihan dan pertikaian. Bahkan di berbagai belahan bumi mulai terkonsentrasi kantong-kantong perlawanan (baca: jihad) ummat Islam terhadap dominasi kekuatan dunia internasional yang memerangi ummat Islam dengan dalih War on Terror. Di Somalia ada Harakah Syabab Al-Mujahidin. Di Irak ada Al-Qaedah. Di Afghanistan dan Pakistan ada Thaliban. Di Kashmir ada Mujahidin Kashmir. Di Chechnya ada Umara of Caucasian Mujahideen. Di Mindanao ada Moro Islamic Liberation Front. Dan di bumi suci Palestina ada Hamas dengan sayap militernya Izzuddin Al-Qossam beserta sayap militer faksi-faksi Palestina lainnya.
Tampaknya, hanya masalah waktu saja sebelum Allah taqdirkan munculnya sang Komandan sekaligus Pemersatu Mujahidin, yaitu lelaki keturunan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang namanya mirip nama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan nama ayahnya mirip nama ayah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, yaitu Muhammad bin Abdullah.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ
رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah ta’aala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435)

Dari hadits di atas sebagian Ulama menyimpulkan bahwa Imam Mahdi akan memiliki nama Muhammad bin Abdullah. Sebab kata Nabi shollallahu ’alaih wa sallam namanya mirip nama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sedangkan nama ayahnya mirip nama ayah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Itulah sebabnya para pejuang Palestina, khususnya kelompok Hamas mempunyai slogan perjuangan yang berbunyi:

خيبر خيبر يا يهود جيش محمد سوف يعود
Wahai kaum Yahudi, Khaibar, Khaibar… Pasukan Muhammad pasti akan kembali.”

Istilah ”Pasukan Muhammad” mengisyaratkan ke masa lampau, yaitu pasukan pengikut Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, dan sekaligus ke masa yang akan datang, yaitu pasukan pengikut Muhammad bin Abdullah lelaki yang kelak datang berpredikat Imam Mahdi...!

Adalah kewajiban setiap muslim dewasa ini untuk mempersiapkan dirinya. Sebab bila sang Komandan sekaligus Pemersatu Mujahidin itu telah datang, maka tidak ada hal lain yang perlu dilakukan selain bergabung ke dalam pasukannya.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ
Ketika kalian melihatnya (Imam Mahdi) maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju.” (HR Ibnu Majah 4074)

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan yang segera berbai’at dengan Al-Mahdi bilamana ia telah datang. Jadikanlah kami bagian dari pasukannya yang memperoleh
satu dari dua kebaikan: Hidup Mulia atau Mati Syahid... Amin ya Rabb...

Jumat, 21 Mei 2010

Lintasan Sejarah : Napoleon Takluk Akibat Tragedi Gunung Tambora

Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa.

Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia.
Ya, tiga hari setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napolean terjebak musuh. Pasalnya, di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran.
Akibat cuaca buruk, roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Semua kendaraan tak bisa melaju dengan mulus. Tanahnya licin, berselimutkan salju. Maklum, abu tebal dari letusan Gunung Tambora masih bertebaran di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi.
Perang Waterloo itu menjadi kisah tragis bagi Napoleon. Kehebatan Napoleon dalam menundukkan musuh-musuhnya berakhir sudah. Ia pun menyerah kalah.
Jenderal itu lalu dibuang ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudra Atlantik. Di pulau terpencil itulah ia menghabiskan waktunya hingga meninggal dunia pada 1821 akibat serangan kanker.
Kenneth Spink, seorang pakar geologi berteori, bahwa cuaca buruk akibat letusan Gunung Tambora menjadi salah satu pemicu kekalahan Napoleon. Pada pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris (1996), Spink mengatakan bahwa letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk cuaca buruk di Waterloo pada Juni 1815.
Di Yogyakarta, letusan Tambora mengagetkan Thomas Stamford Raffles. Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang berkuasa pada tahun 1811-1816 itu tadinya mengira ledakan itu berasal dari suara tembakan meriam musuh. Wajar saja demikian karena ketika itu teknologi komunikasi (telegram) memang belum tercipta sehingga letusan itu tak bisa disampaikan ke berbagai penjuru daerah dalam waktu yang relatif cepat.
Takut diserang musuh, Raffles pun lalu mengirim tentara ke pos-pos jaga di sepanjang pesisir untuk siap siaga. Perahu-perahu pun disiagakan. Apa boleh buat, dugaan Raffles keliru. Tak ada serangan musuh.
b siswo
Letusannya tercatat sebagai bencana alam terbesar di dunia.
” Gunung Tambora “

KORAN JAKARTA, Minggu, 06 September 2009 01:57 WIB

Sebagian dari kita tentu belum tahu kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815.

Sebagian dari kita tentu belum tahu kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815.
Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut (dpl). Bandingkan dengan daratan tertinggi di Indonesia saat ini, yakni Puncak Jayawijaya, Papua, yang berketinggian sekitar 3.050 m dpl.
Usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m dpl.

Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar. Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 7 km, panjang maksimal 16 km, dan kedalaman 1,5 km.
Kini, gunung api yang secara administratif berada di dua kabupaten; Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu meninggalkan kisah ajaib, bukan saja di Indonesia namun juga berdampak hingga ke berbagai penjuru dunia.

Sangat Mencekam
Tragedi itu bermula pada awal April 1815. Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat pada 10 April 1815, pukul 19.00 waktu setempat. Sejak saat itu hingga lima hari, ledakan Gunung Tambora mencapai klimaksnya.
Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar.
Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke arah bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut.
Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora. Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut.
Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. Hanya dua orang yang berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api.
Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut. Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku. Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter.
Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta). Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi.
Menurut para geolog, letusan itu merupakan bencana alam terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan, dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, ledakan Gunung Tambora lebih dahsat empat kali lipatnya.
Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3.
Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi.
Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora. Menurut ahli botani Swis, Heinrich Zollinger, dalam seketika letusan ini menewaskan sekitar 10.000 orang.
Setelah itu, jumlah kematian karena kelaparan di Sumbawa mencapai 38.000 orang dan di Lombok 10.000 orang. Sumber lain menyebutkan, letusan itu telah menyusutkan populasi penduduk Sumbawa hingga tersisa hanya 85.000 orang.

Jumlah Korban Meluas
Bukan hanya itu. Jumlah korban tewas juga meluas hingga ke Pulau Bali, yakni mencapai 10.000 orang. Dampak berikutnya, sebanyak 49.000 orang tewas karena penyakit dan kelaparan.
Mengapa terjadi bencana kelaparan yang berkepanjangan? Ada beberapa alasan. Pertama, semua tumbuhan di Pulau Sumbawa ketika itu hancur total akibat tertutup abu tebal dan dilalap api.
Kedua, selama dua minggu awan tebal masih menyelimuti daerah-daerah di sekitar Gunung Tambora, termasuk Bali. Dampaknya, banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen.
Ketiga, partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya.
Kekacauan iklim juga melanda kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Setahun setelah letusan itu, pada 1816, kawasan tersebut mengalami tahun tanpa musim panas. Cuaca di kawasan tersebut berubah total. Maklum, partikel abu tadi masih membungkus atmosfer bumi sehingga menghalangi sinar matahari menerobos ke permukaan tanah.
Paceklik pun melanda Kanada, AS, Inggris, dan lain-lain. Udara beku yang terjadi di negara-negara tersebut menghapuskan impian para petani. Penduduk pun kekurangan bahan makanan.
Dampak terparah dialami Irlandia. Di sana curah hujan dingin terjadi hampir sepanjang musim panas. Sekitar 65.000 orang mati kelaparan dan terkena wabah tipus. Wabah ini lalu menyebar ke Eropa dan menewaskan 200.000 orang.
Letusan Gunung Tambora memang tragis. Letusan itu melenyapkan ratusan ribu manusia, baik mereka yang terkena dampak langsung maupun tak langsung. Kisah memilukan ini sesuai dengan nama Tambora yang berasal dari dua kata; ta dan mbora yang berarti ajakan menghilang.
Menurut mitos yang berkembang, masyarakat di sekitar gunung percaya, kabarnya ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang. Mereka itu tak pernah ditemukan di Gunung Tambora yang kini diselimuti hutan dengan aneka bunga anggrek yang sangat mempesona.

Kamis, 20 Mei 2010

Tahukah Anda, Tidur Terlalu Malam Menyebabkan Kanker Hati

Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT,GPT), ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm!

Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index). Mereka menganggap bila pemeriksaan menunjukkan hasil index yang normal berarti semua OK.
Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar.
Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Ch’uan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.
Saat ini ada seorang pasien dokter Hsu yang mengeluh bahwa selama satu bulan terakhir sering mengalami sakit perut dan berat badannya turun sangat banyak. Setelah dilakukan pemeriksaan supersound baru diketemukan adanya kanker hati yang sangat besar, hampir 80% dari livernya (hati) sudah termakan habis. Pasien sangat terperanjat, Bagaimana mungkin? Tahun lalu baru melakukan medical check-up dan hasilnya semua normal.
Bagaimana mungkin hanya dalam waktu satu tahun yang relatif singkat bisa tumbuh kanker hati yang demikian besar?
Ternyata check-up yang dilakukannya hanya memeriksa fungsi hati.
Hasil pemeriksaan juga menunjukkan normal.
Pemeriksaan fungsi hati adalah salah satu item pemeriksaan hati yang paling
dikenal oleh masyarakat. Tetapi item ini pula yang paling disalahpahami oleh masyarakat kita.
Pada umumnya orang beranggapan bahwa bila hasil index pemeriksaan fungsi hati menunjukkan angka normal berarti tidak ada masalah dengan hati.
Tetapi pandangan ini mengakibatkan munculnya kisah-kisah sedih karena hilangnya kesempatan mendeteksi kanker sejak stadium awal.
Dokter Hsu mengatakan, GOT dan GPT adalah enzim yang paling banyak ditemui di dalam sel-sel hati. Bila terjadi radang hati atau karena satu dan sebab lain sehingga sel-sel hati mati, maka GOT dan GPT akan lari keluar. Hal ini menyebabkan kandungan GOT dan GPT di dalam darah meningkat.Tetapi tidak adanya peningkatan angka GOT dan GPT bukan berarti tidak terjadi pengerasan pada hati atau tidak adanya kanker hati. Bagi banyak para penderita radang hati, meski kondisi radang hati mereka telah berhenti, tetapi dalam hati (liver) mereka telah terbentuk serat-serat dan pengerasan hati. Dengan terbentuknya pengerasan hati, maka akan mudah sekali untuk timbul kanker hati.
Selain itu, pada stadium awal kanker hati, index hati juga tidak akan mengalami kenaikan. Karena pada masa-masa pertumbuhan kanker, hanya sel-sel di sekitarnya yang diserang sehingga rusak dan mati. Karena kerusakan ini hanya secara skala kecil maka angka GOT dan GPT mungkin masih dalam batas normal, katakanlah naik pun tidak akan terjadi kenaikan yang tinggi. Tetapi oleh karena banyak orang yang tidak mengerti akan hal ini sehingga berakibat terjadilah banyak kisah sedih.
Penyebab utama kerusakan hati adalah :
1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab utama.
2. Tidak buang air di pagi hari.
3. Pola makan yang terlalu berlebihan.
4. Tidak makan pagi.
5. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
7. Minyak goreng yang tidak sehat.
Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan, hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkomsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
8. Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3 – 5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.

Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya.

Sebab:
Malam hari pk 9 – 11 : adalah pembuangan zat-zat tidak berguna/beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang
tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.
Malam hari pk 11 – dini hari pk 1 : saat proses de-toxin di bagian hati,harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.
Dini hari pk 1 – 3 : proses de-toxin di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.
Dini hari pk 3 – 5 : de-toxin di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.
Pagi pk 5 -7 : de-toxin di bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil.
Pagi pk 7 – 9 : waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9 -10 daripada tidak makan sama sekali.
Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itulah, tidurlah yang nyenyak dan jangan bergadang.

Sabtu, 15 Mei 2010

OBAT (BIOMEDIK FARMAKOLOGI)

1. Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan

a. Pengertian Obat

Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.

Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan.
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia)

Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).

Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh.
Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme hidup, yang pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu penyakit.

b. Bahan Obat / Bahan Baku

Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah maupun yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan. Produk ruahan merupakan tiap bahan yang telah selesai diolah dan tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi obat jadi.

c. Obat Tradisional

Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman
.
d. Penggolongan Obat

Obat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:

1) Obat Bebas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.

2) Obat Bebas Terbatas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik), beberapa suplemen vitamin dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.

3) Obat Keras, merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan beberapa obat ulkus lambung. Obat golongan ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter.

4) Obat Narkotika, merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah.

Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit.

e. Peran Obat

Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti yang telah dituliskan pada pengertian obat diatas, maka peran obat secara umum adalah sebagai berikut:
1) Penetapan diagnosa
2) Untuk pencegahan penyakit
3) Menyembuhkan penyakit
4) Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
5) Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
6) Peningkatan kesehatan
7) Mengurangi rasa sakit

2. Parameter-parameter Farmakologi

a. Farmakokinetika
Farmakokinetika merupakan aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya (ADME).
Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umunya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut dengan proses farmakokinetika dan berjalan serentak seperti yang terlihat pada gambar 1.1 dibawah ini.

Gambar 1.1. Berbagai proses farmakokinetika obat
1) Absorpsi dan Bioavailabilitas
Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tetapi secara klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Istilah ini menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena untuk obat-obat tertentu, tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sestemik. Sebagaian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding ususpada pemberian oral dan/atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna. Jadi istilah bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain), sublingual (misalnya nitrogliserin), rektal, atau memberikannya bersama makanan.

2) Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas terurama di cairan ekstrasel. Distribusi juga dibatasi oleh 6 ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat, dan kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi berat karena adanya defisiensi protein.

3) Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau tidak toksik. Ada obat yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi ini. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir.

Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna, dan plasma.

4) Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 preoses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal.
Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau intercal pemberian diperpanjang. Bersihan kreatinin dapat dijadikan patokan dalam menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat.
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat. Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. Rambut pun dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik.

b. Farmakodinamika
Farmakodinamika mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ tubuh serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru.

1) Mekanisme Kerja Obat
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai

reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen (hormon, neurotransmitor). Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis.

2) Reseptor Obat
Struktur kimia suatu obat berhubunga dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas intrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya perubahan stereoisomer, dapat menimbulkan perubahan besar dalam sidat farmakologinya. Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru, sintesis obat yang rasio terapinya lebih baik, atau sintesis obat yang selektif terhadap jaringan tertentu. Dalam keadaan tertentu, molekul reseptor berinteraksi secara erat dengan protein seluler lain membentuk sistem reseptor-efektor sebelum menimbulkan respons.

3) Transmisi Sinyal Biologis
Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor yang terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasmaoleh transmitor. Kebanyakan messenger ini bersifat polar. Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit. D.

4) Interaksi Obat-Reseptor
Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan jarang berupa ikatan kovalen.

5) Antagonisme Farmakodinamika
Secara farmakodinamika dapat dibedakan 2 jenis antagonisme, yaitu antagonisme fisiologik dan antagonisme pada reseptor. Selain itu, antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif. Antagonisme merupakan peristiwa pengurangan atau penghapusan efek suatu obat oleh obat lain. Peristiwa ini termasuk interaksi obat. Obat yang menyebabkan pengurangan efek disebut antagonis, sedang obat yang efeknya dikurangi atau ditiadakan disebut agonis. Secara umum obat yang efeknya dipengaruhi oleh obat lain disebut obat objek, sedangkan obat yang mempengaruhi efek obat lain disebut obat presipitan.

6) Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor

Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau masuk ke komponen sel.

7) Efek Obat
Efek obat yaitu perubahan fungsi struktur (organ)/proses/tingkah laku organisme hidup akibat kerja obat.

3. Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya

• Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai berikut:

a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.
b. Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.
1) Tablet Kempa �� paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan
2) Tablet Cetak �� dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan.
3) Tablet Trikurat �� tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
4) Tablet Hipodermik �� dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
5) Tablet Sublingual �� dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.
6) Tablet Bukal �� digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
7) Tablet Efervescen �� tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.
8) Tablet Kunyah �� cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.

d. Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.

e. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan.

f. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).

g. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral
(juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.

h. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.

i. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari.

j. Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.

k. Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 900 C selama 15 menit.

l. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat kuman/virus/antigen.

m. Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.

n. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan pengobatan yaitu:
1) Penggunaan lokal �� memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.
2) Penggunaan sistemik �� aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.

o. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).

p. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.

• Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut:

a. Oral
Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman, praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur.

Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai.

b. Sublingual
Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misal pada kasus pasien jantung. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta)

c. Inhalasi
Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol, terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung.
Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.

d. Rektal
Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol, indometasin, teofilin, barbiturat.

e. Pervaginam
Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke pusat sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.

f. Parentral
Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan – infeksi).
Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi.

g. Topikal/lokal
Obat yang sifatnya lokal. Misal tetes mata, tetes telinga, salep.

h. Suntikan
Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat.
• Tabel Penggunaan Bentuk Sediaanxz
Cara Pemberian
Bentuk Sediaan Utama
Oral
Tablet, kapsul, larutan (sulotio), sirup, eliksir, suspensi, magma, jel, bubuk
Sublingual
Tablet, trokhisi dan tablet hisap
Parentral
Larutan, suspensi
Epikutan/transdermal
Salep, krim, pasta, plester, bubuk, erosol, latio, tempelan transdermal, cakram, larutan, dan solutio
Konjungtival
Salep
Introakular/intraaural
Larutan, suspensi
Intranasal
Larutan, semprot, inhalan, salep
Intrarespiratori
Erosol
Rektal
Larutan, salep, supositoria
Vaginal
Larutan, salep, busa-busa emulsi, tablet, sisipan, supositoria, spon
Uretral
Larutan, supositoria

4. Terapi Obat Pada Pasien-pasien Khusus
Farmakoterapi merupakan cabang ilmu farmakologi yang mempelajari obat untuk mencegah, menegakkan diagnostik, menyembuhkan penyakit, memulihkan (rehabilitasi) kesehatan, namun juga untuk mencegah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu (misal: penggunaan obat-obat KB, anastetika umum (hilangnya kesadaran dan respon aktif (nyeri), fisiologi berubah, sehingga dioperasi tidak sakit)). Tujuan terapi adalah untuk menyembuhkan, mengurangi rasa sakit, menghindari komplikasi, serta memperpanjang masa hidup.
a. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Hamil.
Penggunaan obat dapat mengakibatkan kecacatan pada bayi atau mempengaruhi janin, apabila obat yang dikonsumsi oleh ibu hamil tembus ke placenta.
Obat hanya diresepkan pada wanita hamil bila manfaat yang diperoleh ibu diharapkan lebih besar dibanding resiko pada janin.
Sedapat mungkin dihindari penggunaan segala jenis obat pada trimester pertama kehamilan
Bila menggunakan obat saat hamil, maka harus dipilih obat yang paling aman. Obat harus diresepkan pada dosis efektif yang terendah dan untuk jangka waktu pemakaian yang sesingkat mungkin.
b. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Menyusui
Obat yang diminum ibu menyusui dapat menembus air susu sehingga diminum/terminum oleh bayi. Misal, wanita gondok �� minum obat �� menyusui tidak dihentikan �� anak kerdil
Sedapat mungkin menghindari penggunaan obat pada wanita yang menyusui atau menghentikan pemberian air susu ibu (ASI) jika pemakaian obat harus dilanjutkan.
Jika penggunaan obat diperlukan, pakailah obat dengan efek samping teraman, terutama obat-obatan yang memiliki ijin untuk digunakan pada bayi.

Apabila menggunakan obat selama menyusui, maka bayi harus dipantau secara cermat terhadap efek samping yang mungkin terjadi. Mungkin dapat dianjurkan kepada ibu untuk meminum obat segera setelah menyusui.
c. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Anak
Obat pada anak dapat berpengaruh karena organ-organ pada anak belum sempurna pertumbuhannya, sehingga obat dapat menjadi racun dalam darah (mempengaruhi organ hati dan ginjal). Pada hati, enzim-enzim belum terbentuk sempurna, sehingga obat tidak termotabolisme dengan baik, mengakibatkan konsentrasi obat yang tinggi di tubuh anak. Pada ginjal, bayi berumur 6 bulang, ginjal belum belum efisien mensekresikan obat sehingga mengakibatkan konsentrasi yang tinggi di darah anak.
Dalam pengobatan, anak-anak tidak dapat diperlakukan sebagai orang dewasa berukuran kecil. Penggunaan obat pada anak merupakan hal yang bersifat khusus yang berkaitan dengan perbedaan laju perkembangan organ, sistem dalam tubuh maupun enzim yang bertanggungjawab terhadap metabolisme dan ekskresi obat.
Farmakokinetika pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Dengan memahami perbedaan tersebut akan membantu farmasis klinis dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan dosis, misalnya dalam pengusulan dosis (mg/kg) maupun frekuensi pemberian obat yang berbeda antara anak-anak dengan orang dewasa.

Dosis bagi anak-anak sering sulit untuk ditentukan. Pemanfaatan pengalaman klinis merupakan acuan terbaik dalam menentukan dosis yang paling sesuai untuk bayi maupun anak-anak.
Pemakaian obat yang belum mempunyai ijin untuk digunakan pada anak, walaupun sering dijumpai, harus dipantau secara ketat untuk memastikan bahwa keamanan pasien diutamakan. Penyuluhan kepada pasien anak-anak maupun pengasuhnya dalam bahasa yang mudah dimengerti akan membantu meningkatkan kepatuhan anak terhadap pengobatan.

d. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Lansia
Terdapat perubahan-perubahan fungsi, kemampuan organ menurun, dosis dalam darah meningkat sehingga menjadi racun, serta laju darah dalam ginjal menurun.
Proses penuaan akan mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan fisiologi, anatomi, psikologi, dan sosiologi. Perubahan fisiologi yang terkait usia dapat menyebabkan perubahan yang bermakna dalam penatalaksanaan obat. Farmasis sebaiknya perlu memiliki pengetahuan menyeluruh tentang perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik yang muncul.
Peresepan yang tidak tepat dan polifarmasi merupakan problem utama dalam terapi dengan obat pada pasien lanjut usia. Keahlian klinis farmasis, termasuk evaluasi terhadap pengobatan, dapat digunakan untuk memperbaiki pelayanan dalam bidang ini.

Tujuan terapi obat pada pasien lanjut usia harus ditetapkan dalam rangka mengoptimalkan hasil terapi. Perbaikan kualitas hidup, titrasi dosis, pemilihan obat, dan bentuk sediaan obat yang tepat serta pengobatan penyebab penyakit bukan sekedar gejalanya merupakan semua tindakan yang sangat diperlukan.
Efek samping obat lebih sering terjadi pada populasi lanjut usia. Pasien lanjut usia tiga kali lebih beresiko masuk rumah sakit akibat efek samping obat. Hal ini berpengaruh secara bermakna terhadap segi finansial seperti halnya implikasi teraupetik.
Kepatuhan penggunaan obat sering kali mengalami penurunan karena beberapa gangguan pada lanjut usia. Kesulitan dalam hal membaca, bahasa, mendengar dan ketangkasan, semuanya dapat berperan dalam masalah ini.

e. Terapi/penggunaan Obat pada Pasien Gangguan Ginjal dan Hati
Terjadi karena karena terjadi penurunan fungsi hati dan ginjal. Uji fungsi ginjal hanya menggambarkan penyakit secara kasar/garis besar, dan lebih dari setengah bagian ginjal harus mengalami kerusakan sebelum terlihat nyata bukti kejadiannya gangguan ginjal. Bentuk gangguan ginjal yang paling sering diakibatkan oleh obat adalah interstitial nefritis dan glomerulonefritis. Penggunaan obat apa pun yang diketahui berpotensi menimbulkan nephrotoksisitas sedapat mungkin harus dihindari pada semua penderita gangguan ginjal.
Pada gagal ginjal, distribusi obat dapat berubah karena terjadi fluktuasi derajat hidrasi atau oleh adanya perubahan pada ikatan protein. Akan tetapi perubahan ikatan protein akan bermakna secara klinis apabila:
1) Lebih dari 90% jumlah obat dalam plasma merupakan bentuk terikat protein.
2) Obat terdistribusi ke jaringan harus dalam jumlah yang kecil.

Ekskresi adalah parameter farmakokinetika yang paling terpengaruh oleh gangguan ginjal. Jika filtrasi glomeruler terganggu oleh penyakit ginjal , maka klirens obat yang terutama tereliminasi melalui mekanisme ini akan menurun dan waktu paruh obat dalam plasma menjadi lebih panjang.
Penderita dengan ginjal yang tidak berfungsi normal dapat menjadi lebih peka terhadap beberapa obat, bahkan jika eliminasinya tidak terganggu. Anjuran dosis didasarkan pada tingkat keparahan gangguan ginjal, yang biasanya dinyatakan dalam istilah laju filtrasi glomeruler (LFG). Perubahan dosis yang paling sering dilakukan adalah dengan menurunkan dosis atau memperpanjang interval pemberian obat, atau kombinasi keduanya.

5. Penggolongan Obat pada Saluran Pencernaan
a. Antitukak
Tukak lambung adalah suatu kondisi patologis pada lambung, deudenum, esofagus bagian bawah, dan stoma gastroenterostomi (setelah bedah lambung).
Tujuan terapi tukak lambung adalah meringankan atau menghilangkan gejala, mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi yang serius (hemoragi, perforasi, obstruksi), dan mencegah kambuh.
l
b. Antispasmodik
Antispasmodik merupakan dolongan obat yang memiliki sifat sebagai relaksan otot polos. Termasuk dalam kelas ini adalah senyawa yang memiliki efek antikolinergik (lebih tepatnya antimuskarinik) dan antagonis reseptor-dopamin tertentu.
Golongan dari Antipasmodik adalah sebagai berikut:

1.Antimuskarinik
Atropin Sulfat
Ekstrak Beladona
Hiosin Butilbromida
• Buskopan
• Buskopan Plus
• Gitas
Propantelin Bromida
• ProBanthine
2.Antispasmodik lain
Mebeverin Hidroklorida
• Duspatalin
3.Stimulan Motilitas
Cisaprid

c. Antidiare
Golongan dari Antidiare adalah sebagai berikut:
Oralit
• Alphatrolit
• Aqualyte
• Bioralit
2.Adsorben dan Obat Pembunuh Massa
Kaolin, ringan
• Neo Diaform
• Neo Kaolana
• Neo Entrostop
Karbo Absorben
• Karbo Absorben
• Norit
3.Antimotilitas
Codein
Co-Fenotrop
• Lomotil
Loperamid Hidroklorida
• Imomed
• Lodia
• Lomodium
Morfin
4.Pengobatan Diare Kronis
Sulfasalazin
• Sulcolon
Kolesteramin
• Questran
Hidrokortison

d. Pencahar
Pencahar adalah obat yang digunakan untuk memudahkan pelintasan dan pengeluaran tinja dari kolon dan rektum. Pencahar umumnya harus dihindari, kecuali bila ketegangan akan memperparah suatu kondisi (seperti pada angina) atau meningkatkan resiko pendarahan rektal (seperti pada hemoroid). Pencahar juga bermanfaat pada konstipasi kerena obat, untuk pengeluaran parasit setelah pemberian antelmenti, serta untuk membersihkan saluran cerna sebelum pembedahan dan prosedur radiologi. Penyelahgunaan pencahar dapat menyebabkan hipokalemia dan atonia kolon sehingga tidak berfungsi.

Golongan dari Pencahar adalah sebagai berikut:
1.Pencahar Pembentuk Massa
Ishaghula Sekam
• Metamucil
• Mucofalk
• Mulax
2.Pencahar Stimulan
Bisakodil
• Dulcolax
• Laxamex
• Melaxan
Dantron
Natrium Dokusat
• Laxatab
Glyserin
• Glyserin Cap Gajah
• Proconsti
• Triolax
Natrium Pikosulfat
• Laxoberon
3.Pelunak Tinja
Parafin Liquidum
• Laxadin
4.Pencahar Osmotik
Laktulosa
• Duphalac
Magnesium Sulfat
• Garam Inggris Cap Gajah

e. Antihemoroid
Gatal-gatal, rasa nyeri, dan ekskoriasi di anus dan perianus yang lazim dijumpai pada pasien hemoroid, fistulas, dan proktitis sebaiknya diobati dengan aplikasi salep dan supositoria. Pembersihan lokal dengan hati-hati maupun penyesuaian diit guna menghindari tinja yang keras, serta penggunaan pencahar pembentuk massa seperti bran dan diet residu tinggi juga bermanfaat. Pada proktitis, tindakan-tindakan ini dapat menambah pengobatan dengan kortikosteroid atau sulfasalazin.

Golongan dari Antihemoroid adalah sebagai berikut:

1.Sediaan Pelembut
Bismut
• Anusol
• Rako
• Boraginol-N
2.Sediaan Kombinasi dengan Kortikosteroid
Kortikostreroid
• Anusol HC
• Ultraproct
• Boraginal-S
3.Sklerosan Rektal

f. Obat dengan Gangguan Sekresi Pencernaan
Golongan dari obat dengan gangguan sekresi pencernaan adalah sebagai berikut:

1.Obat yang Bekerja pada Kandung Empedu
Asam Kenodeoksikolat
• Chenofalk
Asam Ursodeoksikolat
• Estazor
• Pramur
• Urdafalk
2.Enzim Pencernaan
Pankreatin
• Enzymfort
• Excelase
• Librozym 25

6. Penggolongan Obat pada Saluran Pernafasan
1Antiasma & Bronkodilator
Teofilin
• Asmasolon
• Amilex
• Bronchophylin
Aminofilin
• Decafil
• Aminofusin TPN
• Konisma
Salbutamol
• Astop
• Bromosal
• Butasal
Terbutalin
• Astherin
• Bintasma
• Brasmatic
Bambuterol HCL
• Bambec
Eformoterol Fumarat
• Foradil
Fenoterol Hidrobromida
• Berotec
• Berodual Mdi
Salmeterol
• Serevent Inhaler
• Serevent Rotadisk
Efedrin HCL
• Erladrine
Ipratoprium Bromida
• Atrovent
• Atrovent Udv
• Combivent
2Kortikosteroid
Beklometason Dipropionat
• Beclomet
• Becotide
• Respocort Autohaler
Budesonid
• Inflammide
• Pulmicort
• Pulmicort Respules
Flutikason Propionat
• Flixotide Inhaler
• Flixotide Rotadisk
3Kromoglikat
Natrium Kromoglikat
• Intal 5
Nedokromil Natrium
• Tylade Syncroner
Ketotifen
• Intifen
• Nortifen
• Profilas
4Antihistamin
Akrivastin
• Semprex
Astemizol
• Hismanal
• Hispral
• Lapihis
Setirizin Hidroklorida
• Betarhin
• Cerini
• Incidal OD
Loratadin
• Alloris
• Anhissen
• Clarihis
Terfenadin
• Alpenaso
• Gradane
• Hisdane
Azatadin Maleat
• Zadine
Klorfeniramin Maleat
• Aficitom
• Alleron
• Chlorophen
Dimenhidrinat
• Antimab
• Antimo
• Dramamine
Sinarizin
• Cinnipirine
• Sturgeron
Klemastin
• Tavegyl
Siproheptadin HCL
• Alphahist
• Aprocyn
• Apeton
Hidroksizin Hidroklorida
• Bestalin
• Iterax
Mequitazin
• Meviran
Oksatomid
• Oxtin
• Tinset
Feniramin Maleat
• Avil
Prometazin Hidroklorida
• Camergan
• Phenergan
Prometazin
• Avopreg
Teoklat
Mebhidrolin Napadisilat
• Biolergy
• Histapan
• Interhistin
Oksomemazin
• Comtusi
• Doxergan
Homoklorsiklizin Hidroklorida
• Homoklomin
Deksklorfeniramin Maleat
• Dexteem
• Polamec
• Polofar
Brompheniramin Maleat
Deksbromfeniramin Maleat
• Drixoral
Oksatomid
• Oxtin
• Tinset
Mequitazin
• Meviran
5.Mukolitik
Asetilsistein
• Fliumucil
• Fluimucil Pediatric
• Pectocil
Karbosisetein
• Broncholit
• Muciclar
• Mucocil
Ambroxol
• Ambril
• Berea
• Bronchopront
6Antitusif
Codein
• Codipront
• Codipront Cum Expectorant
Dekstrometorfan
• Romilar
• Zenidex
7.Dekongestan
Pseudoefedrin HCL
• Sudafed
Fenilpropanolamin
• Rhinergal
8Ekspektoran
Gliseril Guaiakolat
• Woods Pepermint
• Versaldex
• Pyril
Deksbromfeniramin
• Drixoral
Tripelenamin
• Neobronco
Piristina
Etil Morfin
• Dionin Cough
Alkaloida opium & morphin
• Doveri
• Pulvis Doveri
Noscapin
• Longatin
• Mercotine
• Neocodin
Isoaminil
• Peracon
Oksolamin
• Bredon
Pipazetat
• Selvigon
Butamirat
• Sinecod

7. Penggolongan Obat pada Antibiotika
Antibiotik adalah zat yang dihasilakn oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Sedangkan antimikroba yaitu obat yang membasmi mikroba khusunya mikroba yang merugikan manusia. Penggunaan antibiotik didasarkan pada:
a. Penyebab infeksi
Proses pemberian antibiotic yang paling baik adalah dengan melakukan pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun pada kenyataannya, proses tersebut tidak dapat berjalan karena tidak mungkin melakukan pemeriksaan kepada setiap pasien yang datang karena infeksi, dank arena infeksi yang berat perlu penanganan segera maka pengambilan sample bahan biologic untuk pengembangbiakan dan pemeriksaan kepekaan kuman dapat dilakukan setelah dilakukannya pengobatan terhadap pasien yang bersangkutan.
b. Faktor pasien
Faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotic adalah fungsi organ tubuh pasien yaitu fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi (status imunologis), daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah sedang hamil atau menyusui dan lain-lain.

• Fungsi Antibiotika
Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai infeksi akibat kuman atau juga untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar. Secara provilaktis juga diberikan kepada pasien dengan sendi dan klep jantung buatan, juga sebelum cabut gigi.
Mekanisme kerja yang terpenting pada antibiotika adalah perintangan sintesa protein, sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi tanpa merusak jaringan tuan rumah. Selain itu, beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel dan membran sel. Namun antibiotika dapat digunakan sebagai non-terapeutis, yaitu sebagai stimulans pertumbuhan pada binatang ternak.

• Penggunaan Antibiotik untuk Profilaksis
Profilaksis antibiotik diperlukan dalam keadaan sebagai berikut:
a. Untuk melindungi seseorang yang terpajan kuman tertentu.
b. Mencegah endokarditis pada pasien yang mengalami kelainan katup jantung atau defek septum yang akan menjalani prosedur dengan resiko bakteremia, misalnya ekstraksi gigi, pembedahan dan lain-lain.
c. Untuk kasus bedah, profilaksis diberikan untuk tindakan bedah tertentu yang sering disertai infeksi pasca bedah atau yang berakibat berat bila terjadi infeksi pasca bedah.
• Antibiotik Kombinasi
Antibiotik kombinasi diberikan untuk 4 indikasi utama:
a. Pengobatan infeksi campuran, misalnya pasca bedah abdomen.
b. Pengobatan awal pada infeksi berat yang etiologinya belum jelas, misalnya sepsis, meningitis purulenta.
c. Mendapatkan efek sinergi.
d. Memperlambat timbulnya resistensi, misalnya pada pengobatan tuberkulosis.
• Golongan dari Antibiotik adalah sebagai berikut:

1.Penisilin
Benzatin Penisilin G
• Prokain Penisilin G
• Penadur LA
Phenoxymethyl Penicilline
• Fenocin
• Ospen
• Ven Pee
Kloksalisin
• Meixam
• Ikaclox
• Orbenin
Flucloxacillin
• Alclomex
• Floxapen
Ampicilin
• Dexypen
• Kalpicilin
• Bimapen
Amoksisilin
• Abdimox
• Alphamox
• Amobiotic
Bakampisilin
• Bacacil
Co Amoksiklav
• Amocomb
• Ancla
• Augmentin
Pivampisilin
• Pivamex
Tikarsilin
• Timentin
Piperasilin
• Ledercil
Sulbenisilin
• Kedacilin
2.Sefalosporin (6-059)
Cefaclor
• Capabiotic
• Ceclor
• Cloracef
Cefadroxil
• Alxil
• Bidicef
• Biodroxil
Sefiksim
• Cefspan
• Ceptik
• Comsporin
Sefrozil
• Cefzil
Sefodizim
• Modivid
Cefotaxime
• Clacef
• Claforan
• Clatax
Sefpirom
• Cefrom
Ceftazidime
• Ceftum
• Fortum
Seftibutem
• Cedax
Ceftriaxone
• Broadcef
• Elpicef
• Rochephin
Sefuroxime
• Anbacim
• Cefurox
• Cethixim
Cephalexin
• Cefabiotic
• Ospexin
• Pralexin
Sefamandol
• Dardokef
• Dofacef
Cephradin
• Ceficin
• Dynacef
• Velocef
Cefazolin
• Cefacidal
Sefpodoksim
• Banan

Antibiotik Betalaktam Lainnya
Aztreonam
• Tienam
Meropenem
• Meronem
3.Tetrasiklin
• Bimatra
• Camicyclin
• Combicyclin
Dimeklosiklin Hidroklorida
• Ledermycin
Doxycycline
• Dotur
• Doxin
• Dumoxin
Minosiklin
• Minocin
Oxytetracycline
• Teramycyn
4.Aminoglikosida
Amikasin
• Alostil
• Amikin
Gentamisin
• Ethigent
• Garabiotic
• Garamycin
Kanamycin
• Kanamycin Meiji
Neomisin Sulfat
• Almocyn
Netilmisin
• Netromycin C
Tobramisin
• Dartobcin
• Tobryne
5.Makrolid
Erytromisin
• Alphathrocin
• Bannthrocin
• Camitrocin
Azitromisin
• Aztrin
• Mezatrin
• Zifin
Klaritromisin
• Abbotic
• Clambiotic
• Claros
Roksitromisin
• Anbiolid
• Ixor
• Makrodex
Spiramisin
• Hypermisin
• Osmysin
• Rovadin
6.Kuinolon
Asam Nalidiksat
• Negram
• Urineg
Asam Pipemidat
• Impresial
• Urinter
• Urixin
Ofloksasin
• Akilen
• Betaflox
• Danoflox
Norfloksasin
• Amanita
• Lexinor
• Nopratik
Ciprofloksasin
• Baquinor
• Bernoflox
• Bidiprox
Pefloksasin
• Peflacine
Fleroksasin
• Quinodis
Sparfloksasin
• Zagam
Levofloksasin
• Cravit
• Reskuin
7.Sulfonamide
dan Trimetropim
Trimetoprim
• Tobyprim
• Trisoprim
Cotrimoksazol
• Abatrim
• Bactoprim
• Bactricid
Sulfadiazin
Sulfadimidin
Sulfasalazin
• Sulcolon
8.Antibiotik Lain
Kloramfenikol
• Camicetine
• Chloramex
• Colme
Tiamfenikol
• Biothicol
• Comthycol
• Corsafen
Klindamisin
• Albiotin
• Ancrocid
• Cindala
Linkomisin
• Biolincom
• Lincobiotic
• Lincocin
Vankomisin
• Ladervan
Spektinomisin
• Trobicin
Kolistin
• Colistine

8. Pengetahuan Farmakologi (Obat) bagi Rekam Medis
Selama ini obat dalam pelayanan kesehatan selalu disebut sebagai unsur penunjang walaupun hampir 80% pelayanan kesehatan diintervensi dengan obat. Hubungan kemitraan, tidak lepas dari sejarah pelayanan kefarmasian yang dititik beratkan pada produk (membuat, meracik) serta menyerahkan obat kepada pasien. Hubungan interaksi langsung Apoteker dengan pasien sangat jarang dan bahkan komunikasi antara Apoteker dengan staf medik atau staf non-medis lainnya juga sangat kurang, padahal kemitraan dimulai dengan komunikasi yang baik.
Menurut Departemen Kesehatan RI (1991) rekam medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun yang terekam tentang identitas, anamnese, penentuan fisik laboratorium, diagnosa, segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien, dan pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan, maupun yang mendapat pelayanan gawat darurat. Sedangkan menurut Huffman (1994) rekam medis adalah himpunan fakta-fakta yang berhubungan dengan riwayat hidup dan kesehatan seorang pasien, termasuk penyakit sekarang dan masa lampau dan tindakan-tindakan yang diberikan untuk pengobatan/perawatan kepada pasien tersebut yang ditulis oleh profesional dalam bidang kesehatan.

Beberapa arti penting pengetahuan farmakologi (obat) bagi rekam medis adalah sebagai berikut:
a. Jaminan Keakuratan Laporan/Informasi
Dari pengertian-pengertian diatas, jelas bahwa di dalam rekam medis mencatat segala hal tentang pengobatan/terapi terhadap pasien, sehingga di dalam rekam medis tidak terlepas dari macam-macam obat yang digunakan dalam pengobatan/terapi tersebut. Data-data inilah yang kemudian akan diolah oleh bagian rekam medis menjadi sebuah laporan yang diperlukan atau dilaporkan kepada pihak menejemen atau pihak luar rumah sakit (Dinas Kesehatan maupun Departemen Kesehatan). Laporan ini nantinya menjadi sebuah informasi untuk menunjang sebuah keputusan. Bagaimana jika rekam medis tidak dibekali oleh pengetahuan

farmakologi (obat)? Olahan data tersebut tidak akan valid atau tidak akurat karena rekam medis akan terasa asing dengan nama atau macam obat-obat tersebut. Diharapkan dengan adanya pengetahuan farmakologi (obat), petugas rekam medis mampu untuk mengenali (familiar) terhadap nama, bentuk, ataupun macam-macam obat yang digunakan dalam tindakan pengobatan, sehingga data-data dari rekam medis dapat diolah dan disajikan secara akurat. Dengan kata lain, keakuratan laporan/informasi diharapkan dapat memperbaiki/menjaga mutu pengambilan keputusan bagi pihak menejemen maupun Dinas Kesehatan/Departemen Kesehatan.

b. Keakuratan Data Medis Pasien
Berkas rekam medis adalah milik rumah sakit, namun isinya merupakan milik pasien. Di dalam rekam medis terdapat segala bentuk pelayanan yang sudah diberikan oleh pasien, termasuk di dalamnya adalah obat-obat yang digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan/proses penyembuhan pasien. Petugas rekam medis sendiri harus pandai mentelaah/mencerna isi rekam medis (obat) karena rekam medis itu sendiri merupakan bukti pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien. Manfaat dari hal ini adalah sebagai berikut:
• Penulisan diagnosis yang tidak jelas oleh dokter, dapat dipertegas dengan memperkirakan obat yang digunakan.
• Klaim asuransi biasanya harus mencantumkan obat yang digunakan oleh pasien selama menjalani pelayanan kesehatan, sehingga petugas rekam medis harus tahu (tidak salah/harus akurat) dalam menuliskan obat yang digunakan pada lembar klaim asuransi.
• Data obat yang jelas dapat dijadikan olat komunikasi antar dokter karena (mungkin) tidak setiap pasien ditangani oleh dokter yang sama.
• Rekam medis merupakan bukti pelayanan terhadap pasien, sehingga informasi dan data di dalamnya harus lengkap, jelas, dan akurat (termasuk di dalamnya pemberian obat kepada pasien), sehingga petugas rekam medis harus dapat memahami isi rekam medis itu sendiri.